Langsung ke konten utama

Alfan: Bapak Sialan

Undangan pernikahan itu telah sampai di tangan Alfan, saudara sekaligus teman bermain di masa kecilnya kini akan segera dipinang oleh lelaki yang mencintainya setulus hati. Alfan masih trauma dengan rumah yang ia tempati semasa kecil, bagaimana tidak rumah itu menyimpan banyak kenangan baik dan buruk. Bukan hanya rumah, bahkan kampungnya pun Alfan masih ragu untuk menyambanginya. Keraguan Alfan memuncak saat undangan itu datang, mau tak mau ia harus datang pada momen berbahagia ini.


Hari berbahagia itu tiba.

Alfan merupakan tipikal orang yang selalu ingin berpenampilan menarik. Pagi itu, Alfan memilih mengenakan kemeja biru formal andalannya. Dengan motor klasik yang menemaninya bertualang, ia membonceng ibunya menuju pesta pernikahan Rema, sahabat kecil.

Suasana begitu hangat ketika Alfan dan ibunya tiba, banyak saudara menyambut dengan suka cita. Rupanya mereka merindukan sosok Alfan yang telah lama pergi dan hanya datang di saat-saat tertentu, termasuk hari bahagia sahabatnya. Memang ada kejadian di masa lalu yang membuat Alfan memilih untuk memberi sekat di hidupnya.

Setelah memberi selamat kepada kedua mempelai, sudah menjadi tradisi kita dipersilakan menikmati hidangan yang telah disediakan. Alfan senang bisa bertemu sanak saudara dan tetangganya di masa kecil, rasanya seperti memutar memori dan memulangkan ingatan. Benar saja, yang Alfan takutkan pun terjadi. Sesosok pria dewasa lewat tepat di hadapannya, sosok yang telah lama tak ia temui. Bapak.

Pemandangan menyakitkan bagi Alfan, melihat bapak menggandeng wanita lain yang bukan ibunya sambil pura-pura tak melihat ke arahnya. Dendam yang Alfan simpan selama ini semakin menjadi-jadi. Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi, semua tamu melihat ke arah Alfan sembari takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Dan benar, emosi Alfan meledak dan mencaci maki perempuan yang ia anggap pelacur yang menghancurkan keluarganya. Alfan ceria yang jarang terlihat marah seakan berubah menjadi sosok mengerikan. Bapak yang melahirkannya pun ia ajak duel satu lawan satu namun tidak diiyakan dan keluarga berusaha meredam suasana. Pecah. Untuk pertama kalinya Alfan bertengkar dengan bapaknya di depan umum. Ibu hanya bisa memeluk Alfan sambil menenangkan.

Sejak saat itu Alfan benar-benar semakin hilang rasa hormat kepada bapaknya. Entah sampai kapan.

_____

Apakah bapak akan melakukan hal serupa ketika berada di posisi Alfan? Kurasa setiap anak punya naluri yang sama ketika ibunya tersakiti, tidak terkecuali oleh bapaknya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Pertama

(Kamarku, 12 Juni 2019) Ketika menulis ini, percayalah bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, aku harus berdamai dengan masa lalu hanya untuk menceritakan tempat kecil dan mungkin biasa saja bagimu. Tapi tidak bagiku. Gambar 1. Rumah; tempat saya pertama kali mengenal dunia Hari ini tepat satu minggu setelah lebaran, ketupat dan opor sudah mulai terlupakan. Ada yang berbeda di lebaran kali ini, untuk pertama kalinya aku kembali menginjakkan kaki di rumah ini setelah 14 tahun (terhitung sejak 9 November 2005) aku pindah ke rumah baru walaupun jaraknya tidak lebih dari 20 kilometer. Mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa aku tak pernah mengunjungi rumah lama, atau bisa jadi aku yang terlalu percaya diri he he he tak peduli kamu bertanya-tanya atau tidak, pasti akan kuceritakan nanti. Tak ingin membuatmu pusing, aku hanya ingin menceritakan tempat kecil yang penuh cerita ini. Di tempat yang hanya memiliki luas 8x4 meter ini, pertama kalinya aku meng...

Rumah dan Mimpiku

Dalam hidupku, ada salah satu mimpi yang hingga kini masih menjadi mimpi. Dan aku sangat yakin tidak hanya diriku yang mempunyai mimpi seperti ini. Punya rumah kecil di tengah kebun teh yang sedikit lagi menuju pintu masuk hutan. Semua telah disediakan oleh alam. Setiap hari aku pergi berkebun dan kau bebas jadi apapun yang kau mau, atau kalau boleh aku ingin kau menjadi guru ngaji agar rumah kita selalu ramai oleh anak-anak. Jauh dari keramaian, lebih baik kita menepi dari riuh kota. Aku pasang panel surya di rumahku, satu desa kupasangkan jika tubuh ini mampu. Bila perlu kincir angin ku pasang di dataran tertinggi agar kebutuhan listrik tetap terpenuhi. Semuanya tidak lain adalah untuk mensyukuri semua yang telah disediakan oleh semesta. Mimpiku masih sederhana, pulang berkebun segelas Teh Naga tersedia di meja. Melepas lelah dengan menikmati senyummu yang sedang bercerita, tentang hebatnya kau menghadapi dunia. Hingga langit menguning, anak-anak mulai berdatangan dengan baj...

Ngunjal: Tradisi Angkut Padi Yang Masih Lestari

Gambar 1. Rengkong: Alat pikul dari bambu yang menghasilkan suara tertentu Warisan leluhur Kasepuhan Ciptagelar yang masih dipertahankan dan dilaksanakan oleh penerusnya adalah tradisi Ngunjal. Ngunjal adalah prosesi mengangkut padi. Padi yang sudah dipetik yang masih berbentuk kepalan disimpan di lantayan (tempat pengeringan) untuk beberapa saat hingga kering dan tiba masa Ngunjal. Apa bila sudah saatnya Ngunjal, maka padi yang masih bentuk ‘keupeul’ digabung menjadi satu yang disebut ‘pocong’ dan diangkut menuju leuit (lumbung padi) dengan cara dipikul dan atau diangkut menggunakan rengkong, alat pikul dari bambu yang mampu menghasilkan bunyi. Gambar 2. Kaum laki-laki pembawa padi dari lantayan ke leuit Ngunjal dimulai sejak pukul 7 malam, dimulai dari Kampung Ciptarasa dengan jarak tempuh sekitar 9 kilometer. Selanjutnya dilaksanakan secara serentak dari beberapa tempat lainnya, termasuk belahan Banten Parakan Daray, Jeruk Mipis dan Palanggaran pada malam hari. Kaum l...