Langsung ke konten utama

Bagaimana Seseorang Bisa Menjadi Bandar Narkoba?

"Setan, keluar lu bandar narkoba!" Teriak salah seorang diantara ramainya yang menggerebek suatu konter pulsa di pinggir jalan setelah fly over.

Aku melambatkan laju sepedaku sekadar untuk melihat banyak orang berbadan tegak berkerumun sambil beberapa mengambil gambar yang entah untuk apa. Ketika berada tepat di depan konter itu, seseorang berteriak ke arahku dan ke sekeliling, "Woy, lihat nih bandar narkoba. Bandar narkoba!" sambil tetap merekam dengan menggunakan ponsel di tangannya.

Lalu? Apa? Kenapa kalau dia bandar narkoba? Dunia harus tahu?
Aku yang gak peduli sama sekali melanjutkan perjalanan dengan menggowes sepeda menjauhi tempat ini. Sepanjang jalan, banyak hal yang melintas di otakku, sedikit aku tuangkan di sini.
__

Fitrahnya, manusia terlahir dalam keadaan bersih, suci, tanpa dosa tak peduli dari rahim ibu seperti apa ia dilahirkan. Lingkunganlah yang membentuk seperti apa kita di esok hari. Kita terlalu sibuk menghakimi tanpa tahu bagaimana proses hidup yang telah orang lain lewati. Sayangnya, hukum tidak memandang rasa nyaman yang kita rasakan, salah menurut aturan tetaplah dianggap salah walaupun kita menikmati kesalahan itu. Hukum harus tetap tegak. Tapi tahukah kamu apa yang lebih tinggi daripada hukum? Ya, kemanusiaan.

Aku sangat paham bahwa dikucilkan dan dicaci maki merupakan social punishment yang sudah sepantasnya diterima atas kesalahan yang sudah dilakukan. Kita gak akan pernah bisa kontrol itu. Tapi ada satu hal penting yang bisa kita lakukan, yaitu mengontrol diri sendiri. Sadar bahwa kita memiliki dosa dengan porsinya masing-masing, sehingga paham kadar perlu tidaknya menghujat orang lain. Lalu timbul pertanyaan di lubuk hati terdalam, bisakah kita alihkan pandangan buruk menjadi energi positif? Tentunya hanya diri sendiri yang mampu menjawabnya.
__

Ternyata seru juga bersepeda sore sembari menyaksikan sibuknya manusia berlalu lalang sambil memikirkan banyak hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan.

Semoga kita semua selalu bisa menyebarkan aura positif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Pertama

(Kamarku, 12 Juni 2019) Ketika menulis ini, percayalah bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, aku harus berdamai dengan masa lalu hanya untuk menceritakan tempat kecil dan mungkin biasa saja bagimu. Tapi tidak bagiku. Gambar 1. Rumah; tempat saya pertama kali mengenal dunia Hari ini tepat satu minggu setelah lebaran, ketupat dan opor sudah mulai terlupakan. Ada yang berbeda di lebaran kali ini, untuk pertama kalinya aku kembali menginjakkan kaki di rumah ini setelah 14 tahun (terhitung sejak 9 November 2005) aku pindah ke rumah baru walaupun jaraknya tidak lebih dari 20 kilometer. Mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa aku tak pernah mengunjungi rumah lama, atau bisa jadi aku yang terlalu percaya diri he he he tak peduli kamu bertanya-tanya atau tidak, pasti akan kuceritakan nanti. Tak ingin membuatmu pusing, aku hanya ingin menceritakan tempat kecil yang penuh cerita ini. Di tempat yang hanya memiliki luas 8x4 meter ini, pertama kalinya aku meng...

Rumah dan Mimpiku

Dalam hidupku, ada salah satu mimpi yang hingga kini masih menjadi mimpi. Dan aku sangat yakin tidak hanya diriku yang mempunyai mimpi seperti ini. Punya rumah kecil di tengah kebun teh yang sedikit lagi menuju pintu masuk hutan. Semua telah disediakan oleh alam. Setiap hari aku pergi berkebun dan kau bebas jadi apapun yang kau mau, atau kalau boleh aku ingin kau menjadi guru ngaji agar rumah kita selalu ramai oleh anak-anak. Jauh dari keramaian, lebih baik kita menepi dari riuh kota. Aku pasang panel surya di rumahku, satu desa kupasangkan jika tubuh ini mampu. Bila perlu kincir angin ku pasang di dataran tertinggi agar kebutuhan listrik tetap terpenuhi. Semuanya tidak lain adalah untuk mensyukuri semua yang telah disediakan oleh semesta. Mimpiku masih sederhana, pulang berkebun segelas Teh Naga tersedia di meja. Melepas lelah dengan menikmati senyummu yang sedang bercerita, tentang hebatnya kau menghadapi dunia. Hingga langit menguning, anak-anak mulai berdatangan dengan baj...

Ngunjal: Tradisi Angkut Padi Yang Masih Lestari

Gambar 1. Rengkong: Alat pikul dari bambu yang menghasilkan suara tertentu Warisan leluhur Kasepuhan Ciptagelar yang masih dipertahankan dan dilaksanakan oleh penerusnya adalah tradisi Ngunjal. Ngunjal adalah prosesi mengangkut padi. Padi yang sudah dipetik yang masih berbentuk kepalan disimpan di lantayan (tempat pengeringan) untuk beberapa saat hingga kering dan tiba masa Ngunjal. Apa bila sudah saatnya Ngunjal, maka padi yang masih bentuk ‘keupeul’ digabung menjadi satu yang disebut ‘pocong’ dan diangkut menuju leuit (lumbung padi) dengan cara dipikul dan atau diangkut menggunakan rengkong, alat pikul dari bambu yang mampu menghasilkan bunyi. Gambar 2. Kaum laki-laki pembawa padi dari lantayan ke leuit Ngunjal dimulai sejak pukul 7 malam, dimulai dari Kampung Ciptarasa dengan jarak tempuh sekitar 9 kilometer. Selanjutnya dilaksanakan secara serentak dari beberapa tempat lainnya, termasuk belahan Banten Parakan Daray, Jeruk Mipis dan Palanggaran pada malam hari. Kaum l...