Langsung ke konten utama

Selamat Berbahagia

Bogor, 27 Agustus 2019

Pagi kemarin Bandung sedang dingin, tapi tidak terlalu. Seperti biasa kuawali pagi dengan mengecek telepon genggam yang ada di sebelahku. Hari sebelumnya memang kumatikan koneksi internet karena terlampau sibuk memantau adik didik yang sedang berlomba sehingga ketika kunyalakan terdapat ratusan pesan masuk ke whatsapp-ku.

Mataku tertuju pada satu kontak yang sudah lama tidak muncul, dan kini naik kembali ke permukaan. Sudah bisa kutebak apa isinya, undangan pernikahan. Memang ini bukan kali pertama aku ditinggal nikah oleh mantan, gebetan, atau bahkan hanya orang yang sempat dekat tanpa jadian.

Tidak kaget, karena sudah kuketahui sejak lama rencana pernikahanmu. Sebagai seseorang yang pernah berusaha merajut mimpi, aku selalu berusaha tahu akan segala aktivitasmu baik itu dengan stalking media sosial atau bertanya pada teman dekat. Berharap lebih siap dalam menerima segala kemungkinan yang terjadi.

Aku sempat meminta kepada Allah, jika Ia kabulkan aku sangat bersyukur. Namun jika Ia belum memberinya aku ikhlas. Aku berserah diri pada-Nya.

Untukmu yang akan menikah, selamat berbahagia.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Pertama

(Kamarku, 12 Juni 2019) Ketika menulis ini, percayalah bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, aku harus berdamai dengan masa lalu hanya untuk menceritakan tempat kecil dan mungkin biasa saja bagimu. Tapi tidak bagiku. Gambar 1. Rumah; tempat saya pertama kali mengenal dunia Hari ini tepat satu minggu setelah lebaran, ketupat dan opor sudah mulai terlupakan. Ada yang berbeda di lebaran kali ini, untuk pertama kalinya aku kembali menginjakkan kaki di rumah ini setelah 14 tahun (terhitung sejak 9 November 2005) aku pindah ke rumah baru walaupun jaraknya tidak lebih dari 20 kilometer. Mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa aku tak pernah mengunjungi rumah lama, atau bisa jadi aku yang terlalu percaya diri he he he tak peduli kamu bertanya-tanya atau tidak, pasti akan kuceritakan nanti. Tak ingin membuatmu pusing, aku hanya ingin menceritakan tempat kecil yang penuh cerita ini. Di tempat yang hanya memiliki luas 8x4 meter ini, pertama kalinya aku meng...

Rumah dan Mimpiku

Dalam hidupku, ada salah satu mimpi yang hingga kini masih menjadi mimpi. Dan aku sangat yakin tidak hanya diriku yang mempunyai mimpi seperti ini. Punya rumah kecil di tengah kebun teh yang sedikit lagi menuju pintu masuk hutan. Semua telah disediakan oleh alam. Setiap hari aku pergi berkebun dan kau bebas jadi apapun yang kau mau, atau kalau boleh aku ingin kau menjadi guru ngaji agar rumah kita selalu ramai oleh anak-anak. Jauh dari keramaian, lebih baik kita menepi dari riuh kota. Aku pasang panel surya di rumahku, satu desa kupasangkan jika tubuh ini mampu. Bila perlu kincir angin ku pasang di dataran tertinggi agar kebutuhan listrik tetap terpenuhi. Semuanya tidak lain adalah untuk mensyukuri semua yang telah disediakan oleh semesta. Mimpiku masih sederhana, pulang berkebun segelas Teh Naga tersedia di meja. Melepas lelah dengan menikmati senyummu yang sedang bercerita, tentang hebatnya kau menghadapi dunia. Hingga langit menguning, anak-anak mulai berdatangan dengan baj...

Ngunjal: Tradisi Angkut Padi Yang Masih Lestari

Gambar 1. Rengkong: Alat pikul dari bambu yang menghasilkan suara tertentu Warisan leluhur Kasepuhan Ciptagelar yang masih dipertahankan dan dilaksanakan oleh penerusnya adalah tradisi Ngunjal. Ngunjal adalah prosesi mengangkut padi. Padi yang sudah dipetik yang masih berbentuk kepalan disimpan di lantayan (tempat pengeringan) untuk beberapa saat hingga kering dan tiba masa Ngunjal. Apa bila sudah saatnya Ngunjal, maka padi yang masih bentuk ‘keupeul’ digabung menjadi satu yang disebut ‘pocong’ dan diangkut menuju leuit (lumbung padi) dengan cara dipikul dan atau diangkut menggunakan rengkong, alat pikul dari bambu yang mampu menghasilkan bunyi. Gambar 2. Kaum laki-laki pembawa padi dari lantayan ke leuit Ngunjal dimulai sejak pukul 7 malam, dimulai dari Kampung Ciptarasa dengan jarak tempuh sekitar 9 kilometer. Selanjutnya dilaksanakan secara serentak dari beberapa tempat lainnya, termasuk belahan Banten Parakan Daray, Jeruk Mipis dan Palanggaran pada malam hari. Kaum l...