Langsung ke konten utama

Ngunjal: Tradisi Angkut Padi Yang Masih Lestari

Gambar 1. Rengkong: Alat pikul dari bambu yang menghasilkan suara tertentu

Warisan leluhur Kasepuhan Ciptagelar yang masih dipertahankan dan dilaksanakan oleh penerusnya adalah tradisi Ngunjal.

Ngunjal adalah prosesi mengangkut padi. Padi yang sudah dipetik yang masih berbentuk kepalan disimpan di lantayan (tempat pengeringan) untuk beberapa saat hingga kering dan tiba masa Ngunjal. Apa bila sudah saatnya Ngunjal, maka padi yang masih bentuk ‘keupeul’ digabung menjadi satu yang disebut ‘pocong’ dan diangkut menuju leuit (lumbung padi) dengan cara dipikul dan atau diangkut menggunakan rengkong, alat pikul dari bambu yang mampu menghasilkan bunyi.

Gambar 2. Kaum laki-laki pembawa padi dari lantayan ke leuit

Ngunjal dimulai sejak pukul 7 malam, dimulai dari Kampung Ciptarasa dengan jarak tempuh sekitar 9 kilometer. Selanjutnya dilaksanakan secara serentak dari beberapa tempat lainnya, termasuk belahan Banten Parakan Daray, Jeruk Mipis dan Palanggaran pada malam hari.
Kaum laki-laki masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar baik anak-anak hingga orang dewasa, semuanya ikut mengangkut padi. Sesampainya di Ciptagelar, pembawa padi akan disambut dengan iringan musik khas Kampung Adat seperti degung, dan angklung dogdog lojor. Berbagai jenis makananpun telah dihidangkan oleh kaum wanita, sehingga ketika tiba, pembawa padi bisa langsung mengisi perut setelah melewati perjalanan yang panjang.

Abah Ugi, pemimpin masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar, menjelaskan bahwa proses pertanian padi di Ciptagelar hanya berlangsung sekali dalam setahun, dalam prosesnya tidak sedikitpun menggunakan bantuan teknologi dan mesin. Padi yang sudah menjadi beras bahkan nasi tidak diperkenankan sama sekali untuk dijual. Itu merupakan salah satu tradisi yang masih dipegang teguh oleh masyarakat adat.

Gambar 3. Memasukkan padi ke leuit dengan cara dilempar

Selain Ngunjal, terdapat banyak ritual dari sebelum padi ditanam hingga dipanen. Yang menjadi penutup adalah Seren Taun, ritual terakhir dari prosesi tersebut sebagai wujud rasa syukur terhadap anugerah alam.

Salam.

Dokumentasi selama Ngunjal.

Gambar 4. Suasana Pagi Menjelang Ngunjal di Kasepuhan Ciptagelar

Gambar 5. Ibu-ibu sedang memukul lesung sehingga menciptakan bunyi yang indah

Gambar 6. Angklung Dogdog Lojor: menyambut pembawa padi dengan alunan

Gambar 7. Padi yang sudah ditata di Bale Sosial

Gambar 8. Selain dibawa ke leuit, padi juga disimpan di Bale Sosial

Gambar 9. Seorang bapak yang sedang menyusun padi di Bale Sosial

Gambar 10. Padi yang dilempar ke leuit

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Pertama

(Kamarku, 12 Juni 2019) Ketika menulis ini, percayalah bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, aku harus berdamai dengan masa lalu hanya untuk menceritakan tempat kecil dan mungkin biasa saja bagimu. Tapi tidak bagiku. Gambar 1. Rumah; tempat saya pertama kali mengenal dunia Hari ini tepat satu minggu setelah lebaran, ketupat dan opor sudah mulai terlupakan. Ada yang berbeda di lebaran kali ini, untuk pertama kalinya aku kembali menginjakkan kaki di rumah ini setelah 14 tahun (terhitung sejak 9 November 2005) aku pindah ke rumah baru walaupun jaraknya tidak lebih dari 20 kilometer. Mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa aku tak pernah mengunjungi rumah lama, atau bisa jadi aku yang terlalu percaya diri he he he tak peduli kamu bertanya-tanya atau tidak, pasti akan kuceritakan nanti. Tak ingin membuatmu pusing, aku hanya ingin menceritakan tempat kecil yang penuh cerita ini. Di tempat yang hanya memiliki luas 8x4 meter ini, pertama kalinya aku meng...

Rumah dan Mimpiku

Dalam hidupku, ada salah satu mimpi yang hingga kini masih menjadi mimpi. Dan aku sangat yakin tidak hanya diriku yang mempunyai mimpi seperti ini. Punya rumah kecil di tengah kebun teh yang sedikit lagi menuju pintu masuk hutan. Semua telah disediakan oleh alam. Setiap hari aku pergi berkebun dan kau bebas jadi apapun yang kau mau, atau kalau boleh aku ingin kau menjadi guru ngaji agar rumah kita selalu ramai oleh anak-anak. Jauh dari keramaian, lebih baik kita menepi dari riuh kota. Aku pasang panel surya di rumahku, satu desa kupasangkan jika tubuh ini mampu. Bila perlu kincir angin ku pasang di dataran tertinggi agar kebutuhan listrik tetap terpenuhi. Semuanya tidak lain adalah untuk mensyukuri semua yang telah disediakan oleh semesta. Mimpiku masih sederhana, pulang berkebun segelas Teh Naga tersedia di meja. Melepas lelah dengan menikmati senyummu yang sedang bercerita, tentang hebatnya kau menghadapi dunia. Hingga langit menguning, anak-anak mulai berdatangan dengan baj...