(Kamarku, 12 Juni 2019)
Ketika menulis ini, percayalah bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, aku harus berdamai dengan masa lalu hanya untuk menceritakan tempat kecil dan mungkin biasa saja bagimu. Tapi tidak bagiku.
![]() |
| Gambar 1. Rumah; tempat saya pertama kali mengenal dunia |
Hari ini tepat satu minggu setelah lebaran, ketupat dan opor sudah mulai terlupakan. Ada yang berbeda di lebaran kali ini, untuk pertama kalinya aku kembali menginjakkan kaki di rumah ini setelah 14 tahun (terhitung sejak 9 November 2005) aku pindah ke rumah baru walaupun jaraknya tidak lebih dari 20 kilometer. Mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa aku tak pernah mengunjungi rumah lama, atau bisa jadi aku yang terlalu percaya diri he he he tak peduli kamu bertanya-tanya atau tidak, pasti akan kuceritakan nanti.
Tak ingin membuatmu pusing, aku hanya ingin menceritakan tempat kecil yang penuh cerita ini. Di tempat yang hanya memiliki luas 8x4 meter ini, pertama kalinya aku mengenal dunia. Dulu, akses ke rumah kami ini memang agak sulit terutama untuk kendaraan, karena lokasinya yang berada di ujung. Bahkan ketika ayah membeli sepeda motor legenda (motor pertama kami), harus membuka jalur melewati kuburan terlebih dahulu untuk bisa sampai ke rumah. Ya, memang rumah kami letaknya persis di samping kuburan. Itu berlangsung selama kami menetap di sana. Tapi tak ada sedikitpun rasa takut karena sudah terbiasa.
![]() |
| Gambar 2. Jalan Teras: Tempat aku pernah jatuh hingga patah tulang. |
Rumah yang dibangun di atas tanah warisan kakek (orang tua ayah) dana pembangunannya hasil dari patungan gaji ayah dan ibu ini memang sederhana dengan 1 ruang tamu, 2 kamar, 1 ruang keluarga, 1 dapur, 1 kamar mandi. Terbayang dong bagaimana sempitnya rumah ukuran 8x4 dibagi ke beberapa ruangan? Tapi semoga rezeki yang menempatinya lapang. Amin dong!
1 kamar kami gunakan untuk ruang salat dan menaruh barang-barang, buku, juga arsip penting. 1 lagi kamar yang terisi kasur, lemari, dan televisi. Walaupun ada kamar, kami sekeluarga saat itu jarang tidur di sana, kami lebih memilih tidur menghampar bersama di ruang keluarga. Biasanya kamar itu hanya dipakai untuk tidur siang, dan saat kecil aku sangat benci tidur siang. Entah, mungkin kamar itu lebih sering dipakai ketika aku dan kakakku belum lahir di dunia. Kamu pasti paham kan maksudku? He he he. Rutinitas kami menjelang magrib adalah membuka kasur gulung di ruang keluarga dan membereskannya ketika selesai salat subuh.
![]() | ||
| Gambar 3. Teras: Tempat favorit bermain gambar kertas bersama teman-teman. (Gambar diambil dari arah rumah uak) |
Ibuku selalu bangun lebih awal disaat yang lain masih terlelap. Kurasa hampir semua ibu melakukan hal yang sama; memasak nasi, menyiapkan sarapan, membuat minuman panas, mencuci pakaian, dan memastikan semua aman. Satu hal yang menjadi bagian favoritku, ketika ikut terbangun aku sangat senang diam di depan pintu dapur dan menghadap ke luar rumah sambil bercerita bersama ibu. Bicara hal yang tidak penting seperti bintang jatuh, pohon pala, suara toa masjid, bahkan yang paling kuingat adalah bicara kematian. Ibu selalu punya cara hebat untuk menjawab pertanyaan bodohku saat itu.
Dulu, masih belum ada mesin air sehingga ayah, terkadang ibu, selalu menimba di sumur untuk mandi, mencuci, hingga keperluan kakus lainnya. Ibu pernah bercerita, sebelum aku lahir terkadang ibu bersama nenek (orang tua ayah) mencuci pakaian di Sungai Ciratim yang letaknya di seberang jalan raya dari gang rumah kami. Tidak hanya ibu dan nenek, banyak juga ibu-ibu lain di sana yang memanfaatkan sungai itu untuk mencuci. Sayangnya sekarang airnya sudah keruh dan banyak sampah. Ayah punya kebiasaan yang unik, setiap aku selesai mandi ia selalu mengangkat badan dengan memegang kepalaku tinggi-tinggi dan menyuruhku menggoyang-goyangkan kaki. Supaya cepat tinggi katanya. Ha ha ha apa iya? Dulu aku menurut saja. Yang paling aku suka adalah ketika sore hari aku dan kakakku mandi di depan rumah, telanjang? Tentu saja. Belum ada pikiran-pikiran kotor saat itu. Sangat menyenangkan karena airnya langsung dari sumur yang ditimba. Oh ya, ibu tidak pernah mengizinkan aku dan kakakku hujan-hujanan, disaat anak-anak seusiaku berlari-lari di lapangan menikmati segarnya air hujan. Ibu pasti punya alasannya sendiri.
Aku adalah anak yang senang jika ada tamu ayah atau ibu datang ke rumah, terkadang ikut nimbrung walau tak mengerti apa yang sedang dibahas. Kadang juga aku disuruh pergi ketika ada tamu, mungkin pembahasannya berat. He he he ... Tapi, setelah tamu-tamu pergi biasanya ayah atau ibu selalu menyuruhku meminum sisa air teh manis yang dihidangkan. Berkah katanya.
![]() |
| Gambar 5. Pintu Ruang Tamu: Biasanya selalu terbuka, siapapun boleh masuk. |
Oktober 2003, bertambah lagi 1 anggota keluarga kami. Senang bukan kepalang, aku punya adik! Bibiku menyebalkan, katanya kalau aku punya adik, aku sudah tidak akan disayang lagi. Ternyata tidak, kasih sayang orang tua tidak pernah terbagi bahkan selalu bertambah. Oke, skip, kembali ke rumah.
Selama kami di rumah ini, ayah dan ibu selalu menyicil perlengkapan keluarga seperti lemari dapur, komputer, kulkas, motor, dll. sampai ayah memutuskan bahwa kami harus berpindah rumah. Ayah dan ibu lagi-lagi patungan membangun rumah di Pasir Angin. Alasannya rumah yang ini terlalu dekat dengan keluarga dan sanak saudara dari ayah sehingga serba terbatas. Setelah selesai dibangun, kami sekeluarga pindah ke rumah baru. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 2 atau 3 sekolah dasar (lupa persisnya), dan usiaku masih sekitar 8 tahun lebih.
Kami memulai cerita baru di rumah baru, meski awalnya tidak betah karena harus menyesuaikan diri kembali bersama tetangga baru, teman baru, suasana baru. Bangunan rumah baru memang lebih baik, tapi suasananya masih lebih baik rumah lama. Mungkin saat itu belum terbiasa. Aku masih bersekolah di sekolah dekat rumah lama sampai kelas 5 semester 2. Jadi, aku masih sering mengunjungi rumah nenek meski tidak masuk ke rumah lama.
Semenjak berpindah, aku memang sudah tidak pernah menginjakkan kaki lagi ke dalam rumah lama. Sampai lebaran 2019, aku penasaran bagaimana kondisinya sekarang. Aku meminta kunci rumah ke bibi, ketika masuk ke rumah hati merasa terenyuh. Buyar semua kenangan dan tak terasa air mata menetes. Sedih mengingat semua kenangan yang ada di rumah itu. Ibu dan bibi datang, aku menyeka air mata supaya tidak terlihat sedih. Bibi menjelaskan bagian-bagian rumah yang sudah di renovasi.
Banyak yang berubah, tapi kenangan tidak. Setiap sudut rumah menyimpan cerita. Lantai dan atap yang teduh selalu mengiringi aku tumbuh.
Setiap orang punya definisi rumah masing-masing. Bagaimana denganmu?
Salam.





Seru juga ya cerita masa lalu
BalasHapusSetiap orang memiliki masa lalu. Tidak
Hapusmasalah jika itu baik atau buruk.
Mereka sudah tidak tinggal disana
lagi.
Jadi kangen rumah pertama juga :')
BalasHapusTengok, jangan lupa dongengin :))
HapusKeren, lanjutkan cerita-cerita selanjutnya ka .
BalasHapus