".... Kalau Sudah lulus mau lupakan Ibu juga gak apa-apa, sebelum lulus jangan dulu sombong nanti bisa ibu ledek kalau ketemu." Tutup beliau dengan haru tapi malah membuat mahasiswanya tertawa.
Siapa sangka dosen yang dikenal killer ini bisa menangis?
Ya, beliau adalah Ibu Hj. Rasjida Rasjid, atau biasa kita sapa dengan sebutan Mrs. Mathias. Memang tidak memiliki gelar sarjana pendidikan, tapi dari pengalaman bekerja di salah satu produsen energi geotermal yang membuat beliau sering berkomunikasi dengan berbagai jenis manusia mulai dari barat sampai ke timur. Mungkin itu yang membuat beliau ditarik menjadi dosen di salah satu kampus swasta di Kota Bogor, kampusku. Hebatnya, beliau tidak mengajar di satu kampus saja. Bahkan sesuai penuturan beliau, berapapun kampus membayar, beliau tidak peduli.
September 2015
Sebagai mahasiswa baru 'maba', tentu saja aku memiliki ekspektasi tinggi terhadap kehidupan kampus. Seperti yang tergambar dalam film-film roman. Tepat sekali pemikiranku saat itu, kehidupan kampus sangatlah menyenangkan, sampai aku memasuki kelas dengan mata kuliah Speaking for Everyday Communication. Pertama memasuki kelas ini sudah terasa hawa berbeda, gebrakan luar biasa dalam dunia perkuliahanku. Kamu tahu aturan yang beliau buat?
1. Tidak ada toleransi telat sama sekali.
2. Tidak ada izin atau sakit dalam absensi, tidak masuk ya tidak masuk.
3. Tidak ada keluar-masuk kelas, walaupun ingin ke kamar kecil, boleh keluar asal jangan kembali.
4. Tidak ada yang berbicara dan melakukan kegiatan lain saat ada yang berbicara.
5. Harus proaktif, jangan menjadi mahasiswa yang mengenakan kacamata kuda.
Sudah banyak mahasiswa yang menangis dibuatnya, beruntung di kelas kami tidak ada mahasiswa cengeng, semua bisa dilewati sampai titik darah penghabisan. Cara mengajar yang berbeda dari dosen-dosen lain, menarik sekali pikirku. Sepertinya aku mulai candu dengan cara beliau mengajar, atau hanya sebagai topeng untuk mengelabui diri sendiri agar selalu kuat. Hebatnya aku mendapat nilai A, nilai yang didambakan semua mahasiswa.
Di tahun-tahun berikutnya, aku selalu bertemu dengan beliau di dalam kelas dan sudah terbiasa dengan cara mengajarnya. Nilai A sudah dalam genggaman ketika aku di kelasnya. Begitu juga teman-teman sekelasku. Semakin tinggi semester, terasa perbedaan cara mengajar beliau. Mungkin itu yang dinamakan shock therapy.
Januari 2019
Akhirnya aku bertemu lagi di kelas dengan beliau, walaupun ada yang berbeda dengan suasana kelas. Kini kelas terasa lebih leluasa karena ada sebagian mahasiswa telah mengambil mata kuliahnya dan ada pula mahasiswa yang mengambil kelas lain akibat bentroknya jadwal kelas dengan jadwal mengajar PPL. Tapi itu tidak menyurutkan semangat untuk selalu bertatap muka secara langsung di kelas.
Kebiasaan beliau dalam kelas adalah menceritakan kisah hidupnya, keluarga, dan pengalaman selama bekerja. Tentu menggugah semangat mahasiswa, termasuk aku, untuk bisa menjadi seperti beliau bahkan lebih dari beliau.
Mei 2019 - Ramadan 1440H
Sebelumnya beliau pernah berjanji jika presiden pilihannya menang, beliau akan mentraktir seluruh mahasiswa kelasku. Sampai saat traktiran tiba, aku baru sadar jika pilpres hanya alibi beliau untuk mentraktir mahasiswanya. Kebetulan momen Ramadan, kami ditraktir sambil buka puasa bersama.
Mantap sekali pikirku, kami bebas memilih apa yang hendak dimakan, bahkan sebelum pulang kami dipaksa untuk memesan lagi makanan, siapa tahu untuk sahur he he. Sudah seperti anak yayasan saat itu. Dermawan sekali dosenku satu ini. Tak ada lagi yang seperti beliau.
Juni 2019
Hari itu adalah hari terakhir UAS di semester akhir. Seperti biasa, kami masuk kelas tapi hanya sharing session karena nilai UAS sudah diambil dari praktik selama perkuliahan. Ada yang berbeda dari cara mengajarnya, caranya berbicara. Tidak pernah aku melihat beliau se-mellow ini.
"Mungkin ini terakhir kita bertemu di kelas, atau bahkan di luar. Ibu sudah menginjak 72 tahun, tidak ada yang tahu kapan mati, bukan? Maka dari itu, Ibu harap kalian dapat membukakan pintu maaf yang seluas-luasnya apabila selama di dalam maupun luar kelas ada perkataan atau perbuatan yang tidak mengenakkan di hati. Kalau Sudah lulus mau lupakan Ibu juga gak apa-apa, sebelum lulus jangan dulu sombong nanti bisa ibu ledek kalau ketemu." Tutup beliau sambil meneteskan air mata.
Hari itu adalah hari terakhir kami bertemu di kelas. Beliau akan tetap menjadi Mrs. Mathias yang selalu dikenang sebagai dosen killer berhati lembut.
Salam bakti.
![]() |
| Anak yayasan ditraktir ketua yayasan |
Juni 2019
Hari itu adalah hari terakhir UAS di semester akhir. Seperti biasa, kami masuk kelas tapi hanya sharing session karena nilai UAS sudah diambil dari praktik selama perkuliahan. Ada yang berbeda dari cara mengajarnya, caranya berbicara. Tidak pernah aku melihat beliau se-mellow ini.
"Mungkin ini terakhir kita bertemu di kelas, atau bahkan di luar. Ibu sudah menginjak 72 tahun, tidak ada yang tahu kapan mati, bukan? Maka dari itu, Ibu harap kalian dapat membukakan pintu maaf yang seluas-luasnya apabila selama di dalam maupun luar kelas ada perkataan atau perbuatan yang tidak mengenakkan di hati. Kalau Sudah lulus mau lupakan Ibu juga gak apa-apa, sebelum lulus jangan dulu sombong nanti bisa ibu ledek kalau ketemu." Tutup beliau sambil meneteskan air mata.
Hari itu adalah hari terakhir kami bertemu di kelas. Beliau akan tetap menjadi Mrs. Mathias yang selalu dikenang sebagai dosen killer berhati lembut.
Salam bakti.
![]() | ||
| Hari terakhir bertemu di kelas |
![]() |
| Sehat selalu, guruku. |



Komentar
Posting Komentar